Kamis, 07 Juni 2018

POLITIK DOGIYAI dan ANGKA YANG CACAT

https://mapiha092.blogspot.com/
Fredy Tebai S.S
(Foto dok.pribadi)

        Ide politik yang di tawarkan Aristoteles serta Plato di Athena dulu adalah dengan tujuan mulia agar mencapai kehidupan masyarakan yg lebih baik. Politik dalam kerangkah awal munculnya adalah agar merebut kekuasaan untuk bekerja demi tercapainya kehidupan masyarakat yg bermartabat serta sejahtera dan adil. Dilahirkan dengan istilah 'Zoon Pliticon, yakni binatang berpolitik. Jadi, artinya bahwa hanya binatang berakal (manusia) yang bisa berpolitik dan politik itulah yang membedahkan manusia dengan binatang.


Seiring berkembangnya ilmu dan praktik politik, melalui kajian ilmiah serta  seminar  dan diskusi yang instens melahirkan polesan politik yg lebih modern dan tentunya lebih baik. Namun, dalam praktik politik hari ini menunjukkan aroma yang berbeda dari tujuan politik itu sendiri. Dewasa ini politik hanya dipandang sebagai alat untuk merebut kekuasaan demi menumpuk kekayaan dan menjadi tiran atas rakyatnya sendiri.

Dalam praktik politiknya hari ini, frasa "politik" menjadi konotasi yang buruk. Politik telah dicemar oleh sikap politisi yang buruk dengan kontruksi penafsiran politik yang tidak masuk akal oleh politisi yang tidak masuk akal pula. Hal ini terjadi secara global dan tak terkecuali perpolitikan di Dogiyai.

Dalam pemahaman kebanyakan masyarakat Dogiyai tentang politik adalah uang dan DPR. Jadi, tujuan politik yang baik sebagaimana digagas dan diletakkan oleh Aristoteles dan Plato telah tercemar oleh sosialiasasi politik yang minim. Terutaman elit politik lokal yang gagal memberikan pencerahan atas politik sehat kepada masyarakat. Akhirnya, kemampuan masyarakat untuk menangkap signal positif atas praktik politik tidak mendapat tempat sehingga masyarat merumuskan definisi politik sesuai apa yang disaksikannya. Ada yang bilang politik adalah uang dll.

Sementara dalam kekacauan praktik politik di lapangan, kemudian di pertontonkan lagi dengan kinerja birokrasi yang tidak masuk di akal sehatnya zoon politicon.  Kinerja birokrasi dan legislatif membuat bingung rakyat dengan fluktatif angka2 yang tidak jelas, seperti dalam jumlah penduduk hak memilih.

Perbedaan penetapan jumlah penduduk yang tidak jelas oleh KPU dan Birokrasi (dinas kependudukan) melahirkan banyak spekuasi di masyarakat. Masyarakat semakin dibuat bingung. Contoh seperti perbandingan berikut ini.

Pada tahun 2009 jumlah hak memilih Mapia Barat berjumlah 13 ribu pemilih. Sedangkan jumlah hak memilih Kamu Selatan 14 ribu pemilih Kemudian, jumlah penduduk musim pileg dan pilbub berikutnya mengalami perbedaan yang signifikan, seperti berikut:

Pada tahun 2014 jumlah hak memilih Mapia Barat mencapai 8032 pemilih. Disini terjadi pengurangan suara secara drastis yakni, terpangkas  5 ribu 32 pemilih. Lalu, kemanakah mereka? Apakah terjadi genosida di Mapia Barat akibat perang besar? Untuk apa semua ini? Siapanya harua untung? Entalah....... hanya Alam Dogiyai yg tahu.

 Pada tahun 2014 jumlah hak memilih Kamu Selatan membengkak besar menjadi 22 ribu. Tiba2 8000 pemilih muncul, bin sala bin. Luar biasa. Lalu, dalam kurun 5 tahun saja 8000 ribu pemilih diimpor dari mana? Ini permainan apalah ini? Ludo atau zuma? Siapa yg untung? Coba tebak.........teka teki ini.

Ketidak masuk akal  itu terus terjadi hingga 2017 ini. Pilbub kemarim malah turun lagi di Mapia Barat menjadi 7776 pemilih. Biasanya jumlah pemilih terus naik karna ada pemilih pemula yang bertambah setiap pemilihan. Tapi, Mapia Barat malah turun lagi. Mungkin pemilih yang lain kena Bom atom kah? Atau terjadi pengungi besar besaran seperti bangsa Rohinia di Bangladesh? Sementara pada 2017 Kamsel 22 pemilih.

Kemudian,  musim Pilgub tahun ini jumlah hak memilih Mapia barat hanya 5 ribu ( lima ribu) hak suara. Lama-lama hanya 1 biji pemilih nanti ini. Aduhhh.... jadi bingung, saya mau lucu atau tertawa. Sementara Kamu selatan  menjadi 21 ribu lebih pemilih.

Berdasarkan fakta lapangan diatas atas praktik politik yg tidak masuk di akal waras itu mari kita sebagai intelek muda Dogiyi sama-prihatin dan membangun suatu tatanan politik yang baru, yang dilandaskan pada esensi dan roh politik yg sesungguhnya. Karna kita sebagai anak mudah Dogiyai sudah dan sedang MALU dan rakyat dogiyai sudah muak dengan ketidakjelasan politik di Negeri Bahagia ini.

Opini, walaupun tidak mengerti politik tapi karna dibilang saya ini zoon politicon,
*)  Oleh,  Fredy Tebai S. S 


Malanesian Island Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar sesuai dengan kutipan diatas menurut pemahaman anda, harap komentar yang membangun dan bermanfaat.

Translate

Pengikut Web Ini

Popular Posts